Celotehan - Politik

Dilema Partai Pengusung, Memilih Wakil Rakyat Atau Wakil Partai

Ilustrasi wakil rakyat

Ketika masa kampanye, banyak sekali banner dan baliho caleg terpampang di jalanan. Mereka berlomba-lomba memamerkan wajah dan turut menggunakan wajah capres sebagai latar belakang. Apalah saya sebagai rakyat biasa yang ingin kenal lebih dekat, namun keterdekatan hanya sebatas membaca janji pada sebuah banner.

Mereka memperkenalkan diri sebagai calon wakil rakyat. Yang siap mengawasi para eksekutif dari kursi parlemen. Memanfaatkan popularitas capres dari partai yang mereka usung.

Namun ironi. Pengerahan massa dilapangan menunjukan fakta elektabilitas capres dari partai yang mereka usung, tidak berbanding lurus dengan hasil survey yang beredar. Boleh jadi hasil survey kian melambung hingga ke pucuk langit. Namun massa yang terkumpul hanya sedikit.

Disinilah badut-badut politik mulai tampil sebagai penjilat. Mengatakan bahwa meskipun dirinya adalah caleg dari partai kuning, partai merah atau partai biru, tapi hati mereka tetap mendukung perjuangan capres partai hijau. Beberapa ranting daerah mulai membelot, berdalih mendukung perjuangan rakyat. Menghianati partai demi perubahan, lalu turut ambil barisan berjuang bersama rakyat.

Lantas apakah rakyat bisa dengan mudah terkecoh begitu saja?

Bukankah selama 4 tahun terakhir mereka yang sudah duduk nyaman diparlemen mempertontonkan hal yang sebaliknya?

Belum hilang dari ingatan saya. Terjadi pada sebuah rapat parlemen. Ketika seorang menteri meminta supaya undang-undang perampasan aset agar segera diselesaikan. Namun apa jawaban para petinggi negri konoha tersebut. Mereka lebih tunduk pada ketua umum partai, tunduk pada agenda partai. ‘Para Korea-Korea disini tidak berani mengambil keputusan’.

Maka omong kosong ketika mereka yang mengaku dari partai kuning tiba-tiba mendukung capres dari partai hijau. Omong kosong ketika mereka mengatakan berjuang bersama rakyat dari pada memperjuangkan kepentingan partai.

Sebagai rakyat kecil yang merasa hanya diperhatikan pada masa kampanye. Yang tiba-tiba mendapatkan limpahan bansos sementara pemilu sudah tinggal menghitung hari.

Mau tidak mau, suka tidak suka. Ketika saya sudah menjatuhkan pilihan pada capres dari partai hijau. Maka wajib bagi saya memilih caleg dari partai hijau.

Meskipun caleg partai hijau tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya kepada saya. Walaupun caleg partai kuning, merah dan biru katanya terbukti berjasa besar pada reformasi. Bahkan konon kabarnya sudah terbukti banyak membantu dan berjasa pada rakyat kecil.

Namun saya sebagai rakyat tidak ingin ketika sudah menjatuhkan pilihan kepada capres hijau. Di lain sisi harus memilih mendukung caleg dari partai oposisi dengan dalih hati mereka mendukung arus perubahan.

Kita tidak bisa memilih capres dan oposisi secara bersamaan. Kami tidak ingin ketika program dan gagasan presiden nantinya menemukan batu sandungan hanya karena tidak sejalan dengan kepentingan partai.

Melalui tulisan ini saya hendak mengajak teman-teman untuk lebih bijak dalam memilih caleg. Sebagai rasa terima kasih kepada partai pengusung karena sudah mempertaruhkan dan mengambil resiko besar dalam menyalonkan presiden dengan wajah baru. Bukan orang yang itu-itu saja.

Siapapun calon presiden yang anda pilih nantinya. Semoga amanah dan tidak terhalangi oleh wakil partai dalam mewujudkan visi dan misi perubahan. AMIN.

Demo Title

Demo Description


Introducing your First Popup.
Customize text and design to perfectly suit your needs and preferences.

This will close in 20 seconds

Selayang Pandang
Blog
Home
Lalala
Lilili

This will close in 0 seconds